JAKARTA – Survei IndexMundi yang menempatkan Polri sebagai kepolisian terkorup di Asia Tenggara kembali viral. Angka 7,56 dan peringkat ke-18 dari 100 entitas global dihembuskan seolah temuan baru. Padahal, data ini berusia 11 tahun dan hanya dari 296 responden.
Publik perlu tahu fakta ini agar tidak termakan narasi yang menyesatkan. Pendiri Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, membeberkan empat cacat metodologi survei online terbuka ini.
“Kelemahan utama metodologi IndexMundi Global Surveys terletak pada penggunaan survei online terbuka tanpa kontrol sampel yang ketat,” ujar Burhanuddin.
Empat cacat mendasar disebutkan Burhanuddin. Pertama, bias sampel karena responden hanya berasal dari individu yang memiliki akses internet dan melek teknologi, tidak mewakili seluruh demografi Indonesia.
Kedua, self-selection bias karena partisipasi bersifat sukarela. Siapa pun yang berkunjung ke situs bisa mengisi, sehingga yang terekam hanya opini kelompok ekstrem, bukan suara publik yang seimbang.
“Data yang dihasilkan mencerminkan persepsi subjektif pengguna internet, bukan data statistik empiris yang terverifikasi secara ilmiah,” tegas Burhanuddin.
Ketiga, rentan manipulasi. Tanpa verifikasi identitas, satu orang bisa mengisi berkali-kali menggunakan VPN atau perangkat berbeda. Ini membuat survei menjadi surga bagi pembajakan data oleh kelompok tertentu.














