Macron Serukan Kesiapan Perang Dagang Hadapi Ancaman Tarif Trump, Uni Eropa Cari Jalan Damai

Presiden Prancis Macrom dan Presiden Amerika Trump

Brussels – Presiden Prancis Emmanuel Macron mendesak Uni Eropa untuk “membela kepentingan Eropa secara tegas” menyusul ancaman Presiden AS Donald Trump yang berencana memberlakukan tarif 30% atas hampir seluruh impor dari Uni Eropa.

Pernyataan keras Macron muncul di tengah upaya Uni Eropa untuk meredakan ketegangan. Komisi Eropa menyatakan penundaan tambahan atas pemberlakuan tarif balasan senilai €21 miliar hingga 1 Agustus, bertepatan dengan batas waktu negosiasi baru yang ditetapkan Trump.

“Kini lebih dari sebelumnya, Komisi harus menunjukkan tekadnya dalam membela kepentingan Uni secara tegas. Termasuk dengan mempersiapkan langkah-langkah balasan yang kredibel dan menggunakan semua instrumen yang dimiliki, termasuk mekanisme anti-koersi,” tegas Macron dalam pernyataan resminya di media sosial.

Sementara itu, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menekankan pentingnya diversifikasi pasar. Pada hari Minggu, ia bersama Presiden Indonesia Prabowo Subianto mengumumkan kesepakatan politik atas perjanjian perdagangan bebas Uni Eropa–Indonesia, mengakhiri sembilan tahun negosiasi. Kesepakatan ini disebut sebagai “tonggak besar” bagi perdagangan global dan stabilitas kawasan.

Meski Macron menyerukan sikap tegas, sejumlah pemimpin negara anggota UE menyerukan pendekatan yang lebih hati-hati. Kanselir Jerman Friedrich Merz menyatakan telah berdiskusi langsung dengan Trump dan mengedepankan penyelesaian pragmatis. “Kami akan memanfaatkan dua setengah minggu ke depan hingga 1 Agustus untuk mencari solusi,” katanya.

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni yang dikenal dekat dengan Trump menyatakan keyakinannya bahwa kesepakatan adil dapat dicapai. “Tidak masuk akal memicu perang dagang lintas Atlantik,” ujarnya. Perdana Menteri Belanda Dick Schoof menambahkan bahwa UE harus tetap bersatu dan fokus pada hasil yang saling menguntungkan.

Baca juga:  Netanyahu Tegaskan Target Serangan ke Iran: Gulingkan Rezim, Bukan Hanya Nuklir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *