Lebih lanjut, Visioner Indonesia mengajak masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang berkembang di media sosial yang menyebut seseorang “kebal hukum” hanya berdasarkan foto atau pertemuan tertentu.
“Kita harus membedakan antara persepsi publik dan fakta hukum. Penilaian terhadap seseorang seharusnya didasarkan pada proses dan alat bukti yang sah, bukan pada asumsi ataupun sentimen,” tegas Akril.
Di akhir pernyataannya, Visioner Indonesia menyampaikan harapan agar ruang publik tetap diisi dengan diskusi yang sehat, objektif, dan menjunjung etika.
“Kami melihat Anton Timbang sebagai sosok yang memiliki semangat kerja, kemampuan komunikasi, dan kepedulian terhadap kemajuan daerah. Oleh karena itu, kami mengajak semua pihak untuk bersikap bijak, menghormati proses hukum, serta mengedepankan objektivitas dalam menilai setiap persoalan,” tutup Akril.













