Dalam perspektif kepemimpinan, ini adalah kombinasi yang jarang: keberanian untuk mengakui, sekaligus komitmen untuk memperbaiki.
Harmoni, sebagaimana tema besar perayaan tahun ini, seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai kebersamaan dalam panggung hiburan. Harmoni juga berarti kesediaan untuk mendengar, memahami, dan merespons dinamika yang terjadi di tengah masyarakat.
Apa yang ditunjukkan oleh Gubernur Sultra dalam momen tersebut setidaknya memberi pesan bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang mengambil keputusan, tetapi juga tentang bagaimana keputusan itu dikomunikasikan dan dipertanggungjawabkan.
Ke depan, publik tentu berharap langkah seperti ini tidak menjadi pengecualian, melainkan menjadi bagian dari budaya pemerintahan. Sebab transparansi, empati, dan keberanian mengakui situasi adalah fondasi penting dalam membangun kepercayaan masyarakat.
Di tengah semarak Harmoni Sultra, mungkin justru di situlah makna harmoni yang sesungguhnya mulai terlihat bukan hanya di panggung, tetapi dalam sikap dan cara memimpin.











