Venezuela menempati posisi penting dalam strategi itu. Negara kaya minyak tersebut menerima lebih dari US$100 miliar pinjaman dari lembaga keuangan China sejak 2000. Meski impor minyak Venezuela hanya menyumbang sebagian kecil kebutuhan energi China, nilai utang Caracas menjadi kepentingan utama Beijing.
Kekhawatiran itu terlihat dari langkah regulator keuangan China yang meminta bank-bank besar melaporkan eksposur mereka terhadap Venezuela, menyusul ketidakpastian politik di Caracas.
Victor Shih, profesor ekonomi politik di University of California, San Diego, mengatakan China berisiko mengalami kerugian besar jika pemerintahan baru Venezuela di bawah tekanan AS memprioritaskan pembayaran kepada kreditur Amerika.
Amerika Serikat menyatakan akan memanfaatkan cadangan minyak Venezuela untuk “membangun kembali” negara tersebut. Namun, sejumlah analis menilai Washington kemungkinan akan mengendalikan Caracas melalui pemerintahan baru yang sejalan dengan kepentingannya, bukan melalui pendudukan langsung.
Bagi China, hasil akhir krisis ini akan menentukan langkah selanjutnya—apakah bernegosiasi langsung dengan pemerintah baru Venezuela atau menempuh jalur hukum internasional untuk menagih utang lama.
Krisis Venezuela kini melampaui persoalan nasional. Ia menjadi arena baru perebutan pengaruh antara Amerika Serikat dan China, dengan dampak yang dapat menjalar ke seluruh Amerika Latin.












