FUZHOU — Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Dr. Ridwan Badallah, mewakili Gubernur Sulawesi Tenggara sebagai pembicara dalam The World Maritime Equipment Conference 2026, pada forum Marine Biomedicine and Blue Economic Development yang digelar di Fuzhou, Provinsi Fujian, China.
Forum internasional yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Fujian tersebut dihadiri perwakilan dari sekitar 80 negara. Dalam kesempatan itu, Ridwan memaparkan potensi ekonomi biru Sulawesi Tenggara sekaligus membuka peluang kolaborasi internasional dalam pengembangan sektor kelautan, perikanan, dan biomedis kelautan.
Dalam paparannya, Ridwan menegaskan bahwa Sulawesi Tenggara memiliki kekayaan sumber daya pesisir dan laut yang dapat menjadi fondasi pengembangan ekonomi biru secara berkelanjutan.
“Sulawesi Tenggara memiliki potensi kelautan yang sangat besar. Potensi ini tersebar di 17 kabupaten/kota, mulai dari perikanan tangkap, budidaya rumput laut, mangrove, padang lamun, hingga terumbu karang yang memiliki peluang untuk dikembangkan melalui inovasi dan kerja sama internasional,” demikian rumusan kutipan berdasarkan materi paparan yang diberikan.
Ridwan menjelaskan, potensi tersebut dipetakan ke dalam empat wilayah utama. Wilayah pertama meliputi Kolaka, Kolaka Timur, dan Bombana. Wilayah kedua mencakup Konawe Kepulauan, Konawe Selatan, Kendari, Konawe Utara, dan Konawe.
Wilayah ketiga terdiri atas Buton Tengah, Muna, Muna Barat, dan Buton Utara. Sementara wilayah keempat meliputi Wakatobi, Buton Selatan, Buton, dan Kota Baubau.
Pemetaan tersebut mencakup berbagai potensi sumber daya alam, seperti wilayah kelola laut, garis pantai, hutan mangrove, padang lamun, terumbu karang, rawa, danau, sungai besar, pertanian, perkebunan, serta perikanan. Potensi tersebut turut didukung keberadaan pelabuhan perikanan dan infrastruktur penunjang.
Pada aspek marine biomedicine, Ridwan menyoroti kekayaan terumbu karang Sulawesi Tenggara, khususnya di kawasan Wakatobi, sebagai salah satu modal penting dalam pengembangan riset berbasis sumber daya hayati laut.
Selain terumbu karang, potensi lainnya meliputi ikan laut, spons laut, mangrove, serta berbagai organisme laut yang berpeluang dikaji lebih lanjut untuk mendukung inovasi bioteknologi dan biomedis kelautan.
“Potensi laut Sulawesi Tenggara tidak hanya dilihat dari hasil tangkapan ikan, tetapi juga dari kekayaan biodiversitas yang dapat dikembangkan melalui penelitian, penguasaan teknologi, dan kolaborasi dengan mitra internasional,” demikian rumusan pernyataan yang dapat disesuaikan dengan keterangan resmi Ridwan.
Menurutnya, pengembangan ekonomi biru perlu diarahkan pada penciptaan nilai tambah. Dengan demikian, sumber daya laut tidak hanya dipasarkan sebagai komoditas mentah, tetapi juga berpeluang dikembangkan melalui industri pengolahan, penelitian, dan inovasi.














