Trump Belum Putuskan Bergabung dalam Perang Melawan Iran, Khamenei Peringatkan AS untuk Tidak Menyerang

Presiden Amerika Serikat Donald Trump

Fasilitas nuklir Fordow milik Iran menjadi pusat perhatian dalam desakan Israel agar AS turut serta dalam perang. Menurut pejabat militer Israel dan pakar nuklir, fasilitas lain mungkin bisa diperbaiki dalam beberapa bulan, tetapi menghancurkan atau melumpuhkan Fordow akan berdampak jangka panjang.

Penetration depth of bunker busting bomb

Penetration  depth of bunker  busting bomb
1.8 to 2.4 metres Blu-109 61 metres Bunker buster GBU-57a/b.
The Fordow fuel enrichment plant is buried 80-90 metres down Bunker buster GBU-57a/b.
The Fordow fuel enrichment plant is buried 80-90 metres down

Penasehat Keamanan Nasional Israel, Tzachi lHanegbi, mengatakan bahwa operasi ini sepenuhnya milik Israel, tetapi “tidak akan selesai tanpa menghantam Fordow”, dalam wawancara dengan Channel 12.

Jika AS tidak ikut serta, Israel masih memiliki opsi militer, meskipun lebih berisiko seperti operasi pasukan khusus atau menghancurkan sistem pendukung seperti listrik Fordow.

Meski menyebut perang ini sebagai tindakan bela diri untuk menghentikan program nuklir Iran, PM Netanyahu dan beberapa menterinya secara terbuka menyuarakan keinginan untuk menggulingkan rezim Iran.

Trump sendiri dikabarkan telah memveto rencana Israel untuk membunuh Khamenei. Beberapa kritikus mempertanyakan alasan Israel menargetkan institusi sipil seperti stasiun penyiaran.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, pada hari Rabu menyatakan bahwa Israel mengebom “simbol-simbol kekuasaan” Iran dan menyebut bahwa rezim sedang berada di ujung kejatuhan.

“Sebuah tornado sedang melanda Teheran,” tulisnya di X (Twitter). “Simbol-simbol kekuasaan sedang dibombardir dan runtuh… inilah cara kediktatoran runtuh.”

Presiden Rusia Vladimir Putin menawarkan diri sebagai mediator, setelah salah satu diplomat utamanya mendesak Washington untuk tidak mengambil “opsi intervensi spekulatif”.

Pada malam keenam serangan, Israel membombardir pabrik sentrifugal uranium, pabrik komponen rudal, dan menghancurkan lima helikopter serang.

Baca juga:  Gelombang Protes Nasional Guncang Prancis di Tengah Krisis Politik

Iran membalas dengan menembakkan 15 rudal ke Israel, sementara drone canggih Israel berhasil ditembak jatuh, meski Israel mengklaim telah menguasai langit Teheran dan Iran barat.

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengonfirmasi bahwa dua fasilitas produksi sentrifugal di Iran telah terkena serangan.

Iran melaporkan sedikitnya 224 korban jiwa, sebagian besar warga sipil, tetapi belum memperbarui angka tersebut dalam beberapa hari terakhir.

Lembaga pengawas berbasis AS, Human Rights Activists in Iran, mencatat setidaknya 585 orang tewas dan lebih dari 1.300 terluka.

Di sisi lain, serangan Iran ke Israel telah menewaskan 24 orang, semuanya warga sipil. Pertahanan udara Israel berhasil mencegat sebagian besar dari 400 rudal yang ditembakkan Teheran, dengan hanya sekitar 10% yang mengenai sasaran.

Menurut Wall Street Journal, Israel bisa semakin rentan jika perang berlanjut karena persediaan rudal pertahanan udaranya semakin menipis. Sistem interseptor Arrow, yang sangat canggih dan mahal, memerlukan waktu produksi lama.

Meski AS mendukung pertahanan Israel dengan sistem THAAD, jet tempur F-16, dan rudal angkatan laut, stok senjata pertahanan AS juga tidak tak terbatas.

Iran diyakini masih memiliki sebagian besar dari sekitar 2.000 rudal dalam persediaannya sejak perang dimulai. Serangan Israel difokuskan pada peluncur dan sistem pelontar rudal tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *