Gaya komunikasinya yang luwes dan energik membuatnya mendapat julukan “Korea-Korea Kendari” — sebuah istilah khas yang kini melekat kuat di kalangan kader HIPMI. Julukan itu mencerminkan karakternya yang gesit, militan, dan konsisten membangun solidaritas di antara pengusaha muda lintas wilayah.
Dalam forum yang sama, AHB juga memperkenalkan beberapa kandidat lain, antara lain Anthony Leong, Affifuddin Sudhal Kalla, Reynaldo Bryan, Sunny Boy Hutabarat, dan Andi Amar Ma’ruf Sulaiman. Meski demikian, kemunculan Tri Febrianto dinilai menjadi energi baru bagi kader daerah, terutama dari kawasan timur Indonesia.
Kehadirannya dianggap mampu menjembatani kepentingan daerah dan nasional, mengingat militansi kader HIPMI di timur yang dikenal kuat dan loyal. Bagi banyak pengamat internal HIPMI, “Korea-Korea Kendari” adalah simbol regenerasi, semangat perlawanan positif terhadap dominasi pusat, dan tanda kebangkitan kader daerah dalam kancah nasional.
Menjelang Musyawarah Nasional (Munas) HIPMI 2026, dinamika organisasi diprediksi akan semakin menghangat. Nama Tri Febrianto Damu kini tak hanya mewakili figur personal, tetapi juga semangat kolektif bahwa HIPMI harus terus membuka ruang bagi kader dari berbagai penjuru tanah air.
Gelombang “Korea-Korea Kendari” kini tengah bergerak membawa harapan baru bagi HIPMI Nasional, dari daerah, untuk Indonesia.












