Kenaikan biaya hidup, privatisasi layanan publik, dan minimnya solusi terhadap kesenjangan sosial menjadi pemicu utama. Generasi muda bahkan ikut ambil bagian, menuntut keadilan sosial dan sistem politik yang lebih berpihak pada rakyat.
“Pergantian perdana menteri tidak mengubah kenyataan hidup kami. Harga-harga tetap tinggi, pekerjaan sulit, dan pemerintah hanya sibuk bertahan dari krisis politik,” ujar seorang demonstran di Paris.
Pemerintah Prancis mengerahkan 80 ribu polisi di seluruh negeri untuk mengendalikan situasi. Perdana Menteri Lecornu, yang merupakan perdana menteri kelima di era jabatan kedua Presiden Emmanuel Macron, berjanji akan segera menyusun rancangan anggaran negara sebelum 7 Oktober 2025.
Namun, banyak pihak pesimis janji tersebut akan menjawab keresahan warga. Gelombang protes ini diyakini menjadi ujian terberat bagi pemerintahan Macron-Lecornu, sekaligus cermin rapuhnya stabilitas politik Prancis saat ini.












