Di samping itu juga, tokoh pejuang dan pemikir bangsa indonesia tak pernah meninggalkan catatan-catatan kaki yang sangat penting dalam lembar sejarah untuk regenerasi hari ini. Menjadi pertanyaan besar perjuangan dan pengorbanan apa yang telah kita lakukan untuk memberikan dedikasi dan melanjutkan dari pada cita-cita, harapan mereka yang telah lama di nanti-nantikan menuju tatanan masyarakat yang adil dan beradab jika menyentuh dan membaca pikiran-pikiran mereka kita masih anti.
Harus akui sadar tidak sadar dan mau tidak mau bahwa mereka adalah orang yang sangat kompeten di berbagai bidang dan segala aspek ilmu pengetahuan sampai pada zaman modernisasi ini
Pada kenyataanya bahwa hal itu terjadi karena kita giat merawat peradaban dan bergumul dengan buku-buku sebagai pustaka, labolatorium dan jendela dunia kemajuan sebuah bangsa. Inilah realitasnya bahwa buku sala satu penanda majunya peradaban islam, barat dan peradaban negara-negara lain.
Tak hanya itu, jika saja kehidupan saat ini terjadi pada saat kisah dan peristiwa yang di mana untuk menghancurkan sebuah generasi adalah bakarlah buku-bukunya.
Sebagai orang yang cinta dan suka menggeluti buku sangat tertarik dengan ide-ide yang progresif dan revolusioner untuk suatu perubahan besar tatanan sosial dan politik kita. Upaya untuk menumbuhkan budaya baca di masyarakat khususnya kaum muda mahasiswa sebenarnya sudah berbagai sarana dan instrumen untuk mendapatkan bahan-bahan itu seperti buku, memanfaatkan teknologi sebagai sumber informasi. Jika ini terus terawat dan terpelihara dengan baik maka akan muncul kebiasaan membaca yang bisa melahirkan tradisi literasi di berbagai kalangan.
Di Indonesia sendiri di lansir dalam Human Development index (HDI) bahwa indonesia masih jauh berada pada peringkat ke 112 dari 175 negara yang di survei dalam kegiatan budaya baca. Ini menjadi gambaran betapa kualitas dan standar hidup bangsa indonesia masih kurang tersentuh oleh pendidikan dan gencarnya arus modernisasi, globalisasi. sehingga sangat mempengaruhi dari pada generasi itu sendiri.
Budaya literasi sangat terbatas sekali akibat pengaruh globalisasi yang mengalir begitu cepat di mana pemuda dan mahasiswa lebih memilih mementingkan kepentingan individualistik dari pada harus membudayakan literasi baca , diskusi dan aksi, di tambah lagi akses buku yang sangat mahal dan terbatas sehingga hal yang akan terjadi adalah kering kerontang dan peradaban pun akhirnya akan hancur.
Ini sala satu kelemahan suatu bangsa jika pemuda dan generasinya masa melakukan budaya literasi. Padahal kenikmatan membaca buku dan dampaknya itu sangat besar sekali. Setidak tidaknya ada bekal dan pegangan untuk kehidupan mendatang, Kita punya kekayaan ide, gagasan dan intelektual itu sendiri.
Bahwa literasi adalah kemampuan menulis, membaca dan beraksi. Dalam pandangan Islam surah Al Alaq 96:1 berisi seruan bagi umat Islam untuk membaca, merenungi, dan menghayati ciptaan Tuhan.
Di tengah gencarnya aru modernisasi. Seorang Cendekiawan harus memiliki ilmu dengan pengetahuan itu ia bergerak dan beramal. Yang tujuannya untuk membangun peradaban dan kehidupan yang baik di dunia ini. Sebagai mana tugas manusia sebagai khalifah untuk menjaga bumi dari upaya perusakan atas ulah manusia yang zalim.
Di zaman moderenisasi mahasiswa harus memliki budaya dan candu literasi yang tinggi sebagai bekal untuk bertindak. Karena kemampuan membaca dan menulis sangat diperlukan untuk senjata membangun sikap kritis secara metodologis, progresif, transformatif dan kreatif terhadap berbagai fenomena kehidupan yang mampu menumbuhkan solusi dari berbagai problematika dan mampu menjawab tantangan zaman kedepannya.
Jika mahasiswa mengalami degradasi budaya literasi, makan akan berdampak besar terhadap bangsa ini, karena generasi hari ini adalah pemimpin masa depan bangsa.
Kita mahasiswa atau masyarakat ilmiah yang berakal harus terus berjuang dalam lelahnya belajar karena sejatinya dunia ini memang tempat lelah bukan tempat istirahat, dan jangan sampai kita hidup tanpa arah yang jelas untuk itu kita terus harus belajar demi masa depan lebih baik.
