JAKARTA,— Gelombang tekanan publik terhadap Kejaksaan Agung kembali meningkat. Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Aksi Gotong Royong Anti Rasua (AGORA) kembali mendatangi Kejagung dalam Aksi Jilid IV, seminggu setelah Aksi Jilid III digelar dengan tuntutan serupa: penangkapan Burhanuddin, Bupati Bombana, yang diduga terlibat kasus korupsi Jembatan Cirauci II.
Jika pada Aksi Jilid III massa menyegel pagar Kejagung dengan spanduk bertuliskan “Tangkap Burhanuddin dan Copot Kajati Sultra”, maka pada Aksi Jilid IV, bentuk protes mereka semakin keras. Massa membentangkan spanduk putih besar bertuliskan semprot “Tangkap Penjarakan Burhanuddin Bombana”, dilengkapi gambar tikus di salah satu sisinya sebagai simbol dugaan praktik korupsi yang mereka protes.
Spanduk tersebut dipasang menutupi pagar utama Kejagung. Seorang mahasiswa tampak memimpin orasi menggunakan megafon, sementara massa lain mengibarkan poster dan menyerukan desakan agar Kejagung tidak lagi menunda eksekusi surat perintah penahanan yang telah terbit sejak 2023.
Koordinator Lapangan AGORA, Levi Perdana, menegaskan bahwa Aksi Jilid IV merupakan bentuk eskalasi karena Kejagung dinilai tetap diam meski laporan resmi ke JAMWAS telah diserahkan sejak pekan lalu.
“Setiap hari kami datang, tapi tidak ada langkah nyata. Ini bukan lagi soal laporan, ini soal keberanian menegakkan hukum. Burhanuddin masih menjabat sebagai bupati padahal surat penahanannya sudah terbit. Ini memalukan,” ujar Levi, Rabu, 10/12/2025.
Levi menekankan bahwa AGORA tidak lagi sekadar berunjuk rasa. Ia mengumumkan langkah selanjutnya, yakni mendirikan kemah dan bermalam di depan Kejagung sebagai bentuk aksi permanen hingga Burhanuddin ditangkap.
