Jakarta— Jaringan Aktivis Nusantara menyambut baik jaminan pendanaan proyek pipa transmisi gas Cirebon-Semarang Tahap II (Cisem II) yang diberikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani. Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengeluhkan rendahnya alokasi anggaran Kementerian ESDM yang dinilai menghambat proyek-proyek strategis, termasuk Cisem II. Namun, klarifikasi dari Kemenkeu bahwa proyek ini didukung skema multi-year contract (MYC) dinilai sebagai langkah tepat untuk memastikan keberlanjutan pembangunan infrastruktur gas.
Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Ditjen Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengonfirmasi bahwa pendanaan proyek Cisem II telah dijamin hingga triwulan pertama tahun 2026 melalui skema MYC. Untuk tahun anggaran 2025, Kementerian ESDM telah mengalokasikan Rp1,7 triliun untuk proyek ini. Jaminan ini menjawab kekhawatiran sebelumnya mengenai kelanjutan pembangunan infrastruktur gas yang vital bagi distribusi energi nasional.
“Kami mengapresiasi klarifikasi ini karena jaminan pendanaan dari Kementerian Keuangan sangat penting bagi proyek seperti Cisem II yang memiliki dampak besar pada distribusi energi, terutama untuk kawasan Jawa Tengah dan sekitarnya,” ujar Romadhon Jasn, Ketua Jaringan Aktivis Nusantara, kepada media, Minggu (15/9) di Jakarta.
Menurut Romadhon, proyek Cisem II adalah kunci untuk mengatasi persoalan distribusi gas yang selama ini menjadi masalah di Indonesia. Proyek ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas distribusi gas hingga 350 juta kaki kubik per hari.
Romadhon juga menanggapi keluhan Bahlil mengenai rendahnya anggaran Kementerian ESDM yang dialokasikan untuk tahun 2025. Meskipun Bahlil sebelumnya menyatakan kekhawatiran bahwa beberapa proyek penting tidak akan terdanai.
Jaringan Aktivis Nusantara melihat klarifikasi dari Kementerian Keuangan sebagai bukti bahwa proyek besar seperti Cisem II tetap mendapatkan prioritas dalam alokasi anggaran negara.












