“Kalau yang seperti itu (uang) hubungi suami saya, suami saya yang urus, kemudian suami saya melakukan tranfer ke S,” katanya.
Ia mengatakan setelah itu, inisial S menawarkan lagi bahwa di Kolono Timur tidak terjadi PSU nanti di Desa Ampera untuk dilakukan PSU atau dilakukan pelimpahan suara.
“Dia menjanjikan akan melimpahkan suaranya, nanti diatur di KPU karena ada sepupunya katanya di KPU (inisial SHB),” ungkapnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan sekitar tujuh hari sebelum pleno KPU suami HS dan inisial S melakukan telpon bahwa upaya PSU atau pelimpahan suara biasa dilakukan melalui KPU tentu dengan biaya tertentu sekitar 200 juga.
“Katanya bisa diatur di KPU karena ada sepupunya yang bisa atur, nanti akan ada pelimpahan suara atau PSU dengan kisaran biaya 200 juta, dan suami yang transfer masih ada bukti-buktinya,” tuturnya.
Ramadhan menyampaikan sehari sebelum Pleno KPU Konsel di Wonua Monapa, Inisial S dan SHB diduga melakukan pertemuan di salah satu hotel di Kendari guna merancang strategi agar upaya PSU disalah satu TPS di Moramo berjalan lancar.
“Jadi kami menduga ada pertemuan disana, salah satu hotel di Kendari. Untuk merancang upaya PSU atau pemindahan suara,” ungkapnya.
“Kami mendapatkan bukti-bukti hasil percakapan dan foto bersama caleg Gerindra inisial S dan oknum KPU SHB di salah satu kamar hotel Wonu Monapa Konsel pada saat pleno KPU Konsel,” tuturnya.
Ia menegaskan dalam waktu dekat akan melaporkan oknum anggota KPU Konawe Selatan Inisial SHB ke DKPP, agar diproses sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
“Insyallah dalam waktu dekak kami akan masukkan laporan resmi ke DKPP”, tutupnya.













