Publik pun bertanya-tanya: ini asimilasi atau sekadar “asimilasi rasa konglomerasi”?
Apalagi, dokumen persetujuan asimilasi ternyata juga ditandatangani oleh pejabat lokal, termasuk Lurah Raha III. Rupanya, tangan-tangan yang dulu sibuk menandatangani pencairan dana, kini masih sibuk menandatangani surat rekomendasi kebebasan.
Program asimilasi sejatinya untuk memberikan kesempatan narapidana berintegrasi kembali dengan masyarakat. Tapi dalam kasus Gomberto, masyarakat justru dibuat bertanya: siapa yang sebenarnya berasimilasi? Gomberto dengan masyarakat, atau masyarakat yang dipaksa berasimilasi dengan skenario bisnis keluarganya?
Jika begini caranya, jangan-jangan sebentar lagi akan lahir paket wisata penjara: “Tersangka Korupsi? Jangan Khawatir, Ada Asimilasi!”












