Menurutnya, keterlibatan investor asing juga tetap penting dalam mendukung likuiditas dan memperluas akses investasi. Karena itu, agenda penguatan pasar modal perlu diarahkan pada penciptaan ekosistem yang sehat, kompetitif, dan memberikan kepastian bagi seluruh pelaku pasar.
“Yang perlu kita bangun adalah pasar modal yang kuat karena fundamentalnya, dipercaya karena tata kelolanya, dan berkembang karena produktivitas ekonomi nasional. Dengan begitu, Indonesia tidak hanya menjadi tujuan investasi, tetapi juga memiliki kemampuan lebih besar untuk menggerakkan modal bagi pembangunan,” ujarnya.
Akril menambahkan, seruan Buy Indonesia juga dapat menjadi pengingat bahwa penguatan pasar modal perlu berjalan seiring dengan pembangunan sektor riil. Pertumbuhan industri nasional, pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah, penciptaan lapangan kerja, serta peningkatan daya saing perusahaan dalam negeri merupakan bagian dari fondasi ekonomi yang tidak kalah penting.
Ia berharap pemerintah, DPR RI, otoritas keuangan, dan pelaku usaha dapat terus memperkuat koordinasi dalam menjaga stabilitas serta meningkatkan kredibilitas pasar modal Indonesia.
Dalam konteks pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, menurut Akril, penguatan kemandirian ekonomi perlu diterjemahkan melalui kebijakan yang konsisten, peningkatan produktivitas nasional, dan pengembangan pasar keuangan yang mampu menopang pembiayaan pembangunan.
“Semangat Buy Indonesia akan semakin bermakna apabila diikuti penguatan fundamental ekonomi, peningkatan kualitas perusahaan nasional, dan kebijakan yang menjaga kepercayaan pasar. Optimisme perlu berjalan bersama langkah konkret agar ekonomi Indonesia semakin tangguh menghadapi dinamika global,” tutup Akril Abdillah.














