BEM UHO berpendapat mahasiswa berhak mengetahui rencana calon pemimpin terkait isu penting seperti pendidikan, lingkungan, infrastruktur dan ekonomi.
“Kita tidak ingin pemimpin yang mengejar popularitas, tetapi yang memiliki visi jelas untuk masa depan Sultra,” tegasnya.
Alfan menilai tidak diresponnya tantangan civitas akademika ini menunjukkan ketidak beranian mereka untuk diuji Isi otaknya di kampus.
“Jika mereka tidak mampu menjawab tantangan ini, bagaimana mereka bisa memimpin daerah dengan baik?” tanyanya.
Dengan tantangan ini, BEM UHO berharap calon kepala daerah segera menyadari pentingnya dialog dan keterlibatan langsung dengan masyarakat, terutama generasi muda yang akan menjadi pemilih di masa depan. Keberlanjutan demokrasi yang sehat tergantung pada partisipasi aktif dan keterbukaan.
BEM UHO berkomitmen untuk terus memantau situasi ini dan mengajak mahasiswa berpartisipasi dalam menciptakan iklim politik yang lebih baik di Sulawesi Tenggara.













