Ia mengatakan yang melatarbelakangi keputusan DPP untuk mengusung Siska-Sudirman ketimbang AJP-Andi Sulolipu karena beberapa faktor, seperti survei dan dinamika kepartaian baik di kota maupun provinsi.
“Tetapi yang menjadi pertimbangan DPP kami tidak tahu. Tapi pakem Golkar menganut hasil survei, kader, dan kesiapan. Kalau kita bicara survei, Rasak teratas, kedua Siska, ketiga Giona atau AJP, kelima Yudhi,” ucapnya.
Menurut Azhar terjadinya pergantian pimpinan di internal Partai Golkar usai mundurnya Airlangga Hartarto sebagai ketua umum mempengaruhi dinamika partai
“Tadi map (B1-KWK) itu dibawa lagi ke Plt (pelaksana tugas Ketum Golkar Agus Gumiwang Kartasasmita) galau semua kita, siapa sesungguhnya yang mau diputuskan, sampai sore tadi belum kami tahu, walaupun malamnya kami sudah dapat informasi,” ujar anggota DPRD Kota Kendari ini.
Azhar menyampaikan saat dokumen B1-KWK dibawa ke Agus Gumiwang para pengurus Golkar merasa galau, lantaran arah dukungan bisa saja berubah ke AJP-Andi Sulolipu yang sebelumnya diusung PPP.
Meski sempat harap-harap cemas, akhirnya Partai Golkar memutuskan mengusung pasangan Siska-Sudirman, bukan AJP-Andi Sulolipu. “Ternyata setelah kita lihat dokumen itu sudah ditandatangani sebelum ketum (ketua umum Airlangga Hartarto) mundur,” imbuhnya.
Sebelumnya, AJP yang sudah menerima surat tugas lebih dulu medio November 2023 lalu, “ditekel” Siska-Sudirman lewat dokumen B1-KWK Partai Golkar yang ditandatangani eks Ketua Umum DPP, Airlangga Hartarto pada 7 Agustus 2024.












