WASHINGTON – Kementerian Kehakiman Amerika Serikat (Department of Justice/DOJ) merilis gelombang terbesar dokumen terkait kasus Jeffrey Epstein pada akhir Januari 2026. Publikasi ini menjadi bagian dari implementasi Undang-Undang Transparansi Berkas Epstein yang disahkan Kongres AS pada November 2025.
Dalam rilis terbaru yang diumumkan pada 30 Januari, pemerintah AS membuka sekitar tiga juta halaman dokumen yang mencakup lebih dari 180.000 foto dan 2.000 video. Berkas-berkas tersebut memuat korespondensi, laporan investigasi, catatan tahanan, hingga dokumen psikologis Jeffrey Epstein, terpidana kasus kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur yang meninggal dunia di penjara pada 2019.
Sejumlah nama figur publik dunia kembali mencuat dalam dokumen tersebut, mulai dari Presiden AS Donald Trump, pengusaha teknologi Elon Musk, hingga mantan anggota keluarga Kerajaan Inggris Andrew Mountbatten-Windsor. Meski demikian, Kementerian Kehakiman AS menegaskan bahwa kemunculan nama dalam dokumen tidak otomatis menunjukkan keterlibatan dalam tindak pidana.
Pencarian katalog dokumen dengan kata kunci “Indonesia” menemukan ratusan berkas yang memuat nama pejabat dan pengusaha asal Indonesia. Namun hingga kini, tidak ditemukan bukti yang menunjukkan adanya hubungan langsung antara tokoh-tokoh Indonesia tersebut dengan kejahatan yang dilakukan Epstein.
Dosen hukum pidana Universitas Gadjah Mada, Muhammad Fatahillah Akbar, menilai kemunculan nama dalam dokumen terbuka semacam ini harus dibaca secara hati-hati. Menurutnya, selama tidak ada kaitan dengan perbuatan melawan hukum, penyebutan nama hanya bersifat informasi dan tidak dapat dijadikan dasar tuduhan.
Pengunduran Diri dan Dampak Politik Global
Publikasi dokumen ini memicu dampak politik di sejumlah negara. Di Inggris, mantan Duta Besar Inggris untuk Amerika Serikat, Peter Mandelson, mengundurkan diri dari Partai Buruh setelah namanya disebut dalam berkas Epstein. Mandelson menyatakan keputusannya diambil untuk menghindari polemik berkepanjangan yang dapat merugikan partai.
Berkas tersebut mencantumkan dugaan transaksi keuangan serta korespondensi antara Epstein dan Mandelson pada awal 2000-an. Mandelson membantah tuduhan tersebut dan menyatakan akan menelusuri keaslian dokumen yang dirilis.












