JAKARTA— Kalau biasanya juragan itu identik dengan warung kopi, tambak udang, atau toko kelontong, di Kabupaten Buton Selatan (Busel) justru lain cerita. Konon, proyek pembangunan di sana seperti punya “juragan tetap”. Mekanismenya bukan lagi tender transparan, melainkan mirip arisan: sudah ada yang jatahnya, tinggal tunggu giliran.
Mahasiswa Anti Rasua (MAR) menyebut, isu ini tidak bisa dianggap sekadar gosip warung kopi. Nama Bupati Muhammad Adios kerap dikaitkan dengan dua sosok misterius: NAS dan ID. Bahkan, ID dijuluki sebagai “pengatur proyek”. Kalau ada lomba panjat pinang, kemungkinan besar ID juga yang menentukan siapa jatuh duluan, siapa yang kebagian sabun mandi.
Salah satu proyek yang ramai jadi bahan omongan warga adalah rehabilitasi Pelabuhan Rakyat Batu Atas senilai Rp1,45 miliar. Hasilnya? Katanya hanya “setengah jadi”. Warga bingung: ini pelabuhan untuk kapal atau sekadar lokasi foto prewed bergaya minimalis? Ketua DPRD Busel, Dodi Hasri, pun mengaku kecewa. Mungkin dalam hati beliau bertanya, “Rp1,45 miliar ini habis buat semen, atau buat top up paket data?”
Drama berlanjut di Unit Layanan Pengadaan (ULP). Menurut MAR, pemenang tender resmi bisa tiba-tiba hilang, lalu muncul perusahaan “titipan” yang melenggang mulus. Salah satunya adalah CV Titik Noktah Engineering (TNE). Warga heran, ini perusahaan spesialis bangun infrastruktur atau spesialis “noktahin” harapan kontraktor lain?












