News  

Wasekjend BRP: Sampah Program Makan Bergizi Harus Jadi Perhatian Serius

Program makan bergizi gratis

Jakarta— Wakil Sekretaris Jenderal Badan Relawan Prabowo (BRP), Romadhon Jasn, menyoroti masalah sampah yang dihasilkan dari program makan bergizi gratis yang dicanangkan pemerintah. Meski program ini bertujuan meningkatkan kesehatan masyarakat, limbah kemasan plastik dan sisa makanan menjadi tantangan besar yang perlu segera diatasi agar tidak berdampak buruk pada lingkungan.

“Kita mendukung sepenuhnya program ini karena niatnya mulia untuk rakyat kecil. Namun, pengelolaan sampah dari program ini harus jadi perhatian serius. Jangan sampai manfaat program ini justru dirusak oleh dampak lingkungannya,” ujar Romadhon di Jakarta, Minggu (19/1).

Lonjakan Sampah Plastik

Program makan bergizi gratis diperkirakan mendistribusikan sekitar 5 juta porsi makanan per hari. Berdasarkan estimasi, jumlah sampah plastik dari kemasan makanan mencapai 150 ton per hari, atau sekitar 55.000 ton per tahun. Sampah ini mayoritas berasal dari kemasan plastik sekali pakai yang sulit terurai dan berisiko mencemari ekosistem.

Romadhon mengkritisi penggunaan kemasan plastik yang dianggap praktis namun tidak ramah lingkungan. “Kemasan plastik sekali pakai memang efisien, tapi tanpa pengelolaan yang baik, sampah ini akan menumpuk di tempat pembuangan akhir atau mencemari lingkungan. Pemerintah perlu mendorong penggunaan kemasan biodegradable yang lebih ramah lingkungan,” tegasnya.

Limbah Makanan yang Terbuang

Selain plastik, limbah makanan juga menjadi persoalan besar. Survei awal menunjukkan sekitar 20–30% makanan yang didistribusikan tidak termakan dan berakhir sebagai sampah.

“Limbah makanan ini menunjukkan ada ketidakefisienan dalam perencanaan distribusi. Makanan yang tidak sesuai kebutuhan atau dikirim dalam jumlah berlebihan hanya akan menjadi beban lingkungan,” kata Romadhon.

Limbah makanan yang membusuk di tempat pembuangan juga berkontribusi pada emisi gas metana, yang merupakan salah satu penyebab utama pemanasan global.

Baca juga:  Jaringan Aktivis Nusantara: Anggaran Proyek Pipa Gas Terhambat, Ketahanan Energi Dipertaruhkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *