Trump-Putin Bertemu di Alaska: Sorotan Dunia, Kritik Tajam, dan Keuntungan untuk Moskow

Pertemuan bersejarah antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Pangkalan Militer Gabungan Elmendorf-Richardson, Anchorage, Alaska, pada Jumat (15/8)

Senator Demokrat Mark Kelly bahkan menyindir Trump agar “mengikat kesepakatan terlebih dahulu, baru berbicara besar”.

Ketua Komite Nasional Demokrat, Ken Martin, menambahkan: “Trump telah berobsesi dengan Putin selama bertahun-tahun. Pertemuan ini hanya mempertegas kedekatannya dengan seorang diktator yang jelas-jelas musuh demokrasi.”

John Bolton, mantan penasihat keamanan nasional AS, juga menilai Putin yang paling diuntungkan. “Trump hanya mendapat janji pertemuan lanjutan. Sementara Putin berhasil memulihkan hubungannya dengan Amerika dan tampil tanpa konsekuensi. Trump tampak lelah, dan itu mengkhawatirkan,” katanya kepada CNN.

Pertemuan itu turut menarik perhatian publik di Alaska. Kelompok pro-Ukraina mengibarkan bendera raksasa biru-kuning di jalanan Anchorage sebagai bentuk protes atas kehadiran Putin. Di sisi lain, para pendukung Trump berkumpul di tepi jalan menyambut konvoi presiden dengan spanduk dan sorakan dukungan.

Ironisnya, di saat Trump dan Putin berbincang di Alaska, militer Rusia melancarkan 85 serangan drone dan satu rudal balistik ke wilayah Ukraina. Pasukan Ukraina menyebut berhasil menembak jatuh 61 drone, tetapi serangan tetap menimbulkan kerusakan di wilayah Donetsk, Sumy, Chernihiv, dan Dnipropetrovsk.

Di Rusia sendiri, Kementerian Pertahanan mengklaim berhasil menembak jatuh 29 drone Ukraina di berbagai wilayah, termasuk 10 di Rostov.

Selain agenda resmi, Putin juga melakukan sejumlah kunjungan simbolis. Ia meletakkan bunga di makam prajurit Soviet di Fort Richardson Memorial Cemetery dan bertemu dengan pemimpin Gereja Ortodoks Rusia di Alaska. Langkah ini dipandang sebagai upaya membangkitkan nostalgia sejarah, mengingat Alaska dahulu merupakan wilayah Rusia sebelum dijual ke Amerika Serikat pada 1867.

Sejauh ini, hasil konkret dari pertemuan Trump-Putin di Alaska masih nihil. Tidak ada pengumuman gencatan senjata, tidak ada kesepakatan perdamaian, dan tidak ada jaminan bagi Ukraina.

Baca juga:  Trump Ajukan Gugatan US$10 Miliar terhadap BBC, Tuding Manipulasi Pidato 6 Januari

Yang terlihat jelas adalah citra: Putin berhasil mendapatkan legitimasi internasional melalui pertemuan itu, sementara Trump menuai kritik keras di dalam negeri dan luar negeri karena dianggap memberi panggung tanpa strategi jelas.

Bagi Ukraina dan sekutunya, pesan yang muncul sederhana: perang belum mendekati akhir, dan tekanan terhadap Rusia harus terus dipertahankan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *