News  

Soal Kritik Maskot STQH Nasional, Visioner Indonesia: Lihat Maknanya, Bukan Sekadar Bentuk

Maskot STQH Nasional ke 28.

JAKARTA, — Polemik mengenai desain maskot Seleksi Tilawatil Quran dan Hadits (STQH) Nasional XXVIII yang menggambarkan anoa memegang Al-Quran kini menjadi perbincangan publik. Sejumlah pihak menilai desain tersebut tidak pantas digunakan sebagai simbol kegiatan bernuansa keagamaan. Namun, pandangan berbeda datang dari Sekretaris Jenderal Visioner Indonesia, Akril Abdillah, yang mengajak masyarakat untuk melihatnya dengan sudut pandang yang lebih bijak dan berimbang.

Menurut Akril, simbol dalam kegiatan keagamaan tidak selalu harus dimaknai secara literal. Maskot, katanya, merupakan media kreatif yang menyampaikan pesan moral dan filosofi di balik visualnya.

“Kita jangan terpaku pada bentuk visualnya saja. Maskot itu bukan hewan yang disamakan dengan manusia, tetapi simbol bahwa cahaya Al-Quran menaungi seluruh makhluk ciptaan Allah. Nilai-nilai Al-Quran bukan hanya untuk manusia, tapi juga bagi seluruh alam semesta,” jelas Akril di Jakarta, Selasa (7/10/2025).

Ia menilai, pemilihan anoa, hewan endemik Sulawesi Tenggara, sebagai maskot STQH justru menjadi langkah yang tepat. Bagi Akril, anoa tidak sekadar mewakili kekayaan fauna daerah, tetapi juga mencerminkan karakter moral seperti keteguhan, kesabaran, dan kekuatan nilai yang sejalan dengan semangat STQH itu sendiri.

“Ketika anoa digambarkan memegang Al-Quran, itu bukan soal estetika semata, melainkan pesan universal tentang bagaimana seluruh ciptaan Allah terikat dengan sumber nilai ilahi,” katanya.

Akril menegaskan bahwa dakwah modern perlu bersanding dengan bahasa budaya dan seni agar pesan Islam dapat diterima lebih luas dan lembut. Ia menolak anggapan bahwa penggunaan simbol hewan dalam konteks ini merupakan bentuk penistaan.

Baca juga:  Dari Rapat Analisis Kinerja, Pemprov Sultra Komit Dorong Efektivitas Program Strategis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *