“Informasi yang berkembang, sektor pertanian menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi kita, disusul industri pengolahan, kemudian pertambangan. Jadi secara makro, dari 2024 ke 2025 memang terjadi peningkatan,” katanya.
Menurut Syamsul, kenaikan pertumbuhan ekonomi tersebut mencerminkan peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), yang berarti terjadi lonjakan nilai produksi di berbagai sektor ekonomi Sulawesi Tenggara.
Di tengah perlambatan ekonomi di banyak daerah akibat tekanan regional dan global, capaian ini dinilai sebagai hasil dari sinergi antara pemerintah daerah, sektor swasta, dan masyarakat.
“Ini patut diapresiasi sebagai kerja bersama. Meski pertumbuhannya tidak terlalu besar, tapi di saat banyak daerah mengalami tekanan, Sulawesi Tenggara masih mampu tumbuh secara positif,” tutup Syamsul.
Dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,79 persen, kepemimpinan ASR–Hugua pada tahun pertama dinilai berhasil menjaga stabilitas ekonomi daerah sekaligus mendorong sektor-sektor produktif tetap bergerak di tengah tantangan global.













