“Membantu Palestina bukan semata persoalan agama, melainkan amanat konstitusi. Dalam Pembukaan UUD 1945 ditegaskan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Ini adalah panggilan kemanusiaan,” tegasnya.
Melalui kegiatan TFT ini, Sekda berharap para guru memperoleh metode yang aplikatif untuk menyampaikan kisah-kisah kemanusiaan di kelas secara inspiratif. Ia mengingatkan agar narasi yang dibangun tidak hanya berfokus pada penderitaan, tetapi juga menonjolkan nilai ketangguhan, harapan, dan semangat perjuangan.
Lebih lanjut, ia mendorong agar dukungan terhadap isu kemanusiaan dilakukan secara berkelanjutan melalui edukasi, doa, serta aksi nyata yang terkoordinasi dengan baik.
“Aspek terpenting adalah menjadikan sekolah sebagai lumbung empati dan pusat tumbuhnya gerakan kemanusiaan,” katanya.
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam membentuk generasi Sulawesi Tenggara yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter kuat, kepedulian sosial tinggi, dan wawasan global yang luas.













