Langkah Menteri Agus mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk aktivis masyarakat sipil. Jaringan Aktivis Nusantara, Romadhon Jasn, menilai gagasan ini sebagai lompatan besar dalam mengubah wajah lembaga pemasyarakatan. “Menteri Agus datang dengan semangat perubahan. Menjadikan ketahanan pangan sebagai indikator kinerja kalapas dan karutan bukan hanya inovatif, tapi juga menyentuh akar persoalan. Publik mendukung penuh kebijakan ini agar lapas tidak lagi dipersepsikan negatif, melainkan sebagai pusat pembinaan yang produktif,” ujar Romadhon, Rabu (10/9).
Selain itu, Menteri Agus juga mengaitkan langkahnya dengan program Asta Cita Presiden Prabowo, yang kemudian diterjemahkan dalam 13 program akselerasi pembenahan lapas. Ia menyebut, beberapa di antaranya fokus pada pemberdayaan warga binaan melalui program pelatihan dan kerja nyata.
Romadhon menambahkan, partisipasi publik sangat diperlukan dalam mengawal kebijakan ini. “Kami mendorong agar masyarakat tidak hanya mengawasi, tapi juga terlibat langsung. Dengan begitu, transparansi terjaga, dan manfaat program benar-benar dirasakan oleh warga binaan maupun masyarakat luas,” pungkasnya.
Kebijakan Menteri Agus menunjukkan arah baru Kementerian Imipas yang lebih terbuka, visioner, dan berpihak pada kepentingan bangsa. Dengan dukungan lintas kementerian, lembaga, dan masyarakat, transformasi lapas menuju pusat pembinaan modern dan produktif semakin nyata di depan mata.












