Bayangkan bila wisatawan tidak hanya melihat prasasti, tetapi juga diajak mempelajari cara membaca huruf Kawi secara langsung. Pengalaman itu akan memberi daya tarik tersendiri, menjadikan Jember tidak hanya dikenal sebagai kota festival, tetapi juga pusat kajian aksara.
Gazza melihat Mangadhyayaksara sebagai gerakan jangka panjang. Ia membayangkan adanya ruang belajar komunitas, workshop aksara, hingga aplikasi digital untuk mengajarkan huruf Kawi. “Sejarah seharusnya tidak berhenti di ruang kuliah. Ia harus hidup di tengah masyarakat, terutama anak-anak muda yang akan menjadi pewaris budaya,” tegasnya.
Pemberdayaan pemahaman mendalam terhadap aksara kuno sangat berguna seacar edukatif bagi penerus bangsa agar nilai literasi dari lelhur kita tetap terjaga.
Semangat jiwa muda yang peduli akan warisan sejarah perlu disebar luaskan demi memperkokoh identitas bangsa. Kegiatan seminar yang akan diselenggarakan oleh Gazza merupakan buah inovasi kreatif yang patut diapresiasi. Harapan besar kegiatan ini dapat menjadi contoh ataupun sumber inspirasi untuk melahirkan rupa kebudayaan yang lebih bermakna.
Mangadhyayaksara akhirnya menjadi lebih dari sekadar kegiatan. Ia adalah jembatan untuk membaca Jember melalui aksara, memaknai prasasti bukan hanya sebagai batu berukir, melainkan sebagai naskah hidup yang terus memberi inspirasi. Dengan dukungan para akademisi seperti Drs. Ismail Luthfi dan semangat generasi muda seperti Gazza Triatama Ramdhani, Jember dapat berpeluang besar menjelma menjadi salah satu pusat literasi aksara kuno di Indonesia.
Penulis: Anna Nur Nita, S. Hum













