News  

Membasuh Luka, Menenun Asa: Ikhtiar Saling Percaya untuk Aceh yang Lebih Berdaya

Foto udara memperlihatkan kawasan yang terendam banjir di Lhoksukon, Aceh Utara, Aceh, Kamis (6/10/2022). Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) menyebutkan banjir akibat hujan deras dalam dua hari terakhir tersebut merendam 12 kecamatan di Aceh Utara. (Zikri Maulana/AFP/Getty Images)

Menghindari hal-hal yang merugikan daerah berarti berani memutus rantai inefisiensi sekaligus memperkuat literasi publik. Dengan kekayaan sumber daya alam dan posisi geopolitik strategis, Aceh memiliki modal besar untuk menjadi pusat kemajuan di gerbang barat Indonesia. Namun, kemajuan fisik akan kehilangan makna tanpa kedamaian batin di tengah masyarakat. Menjaga lisan dan sikap dari provokasi adalah bentuk tanggung jawab kebangsaan yang paling nyata saat ini.

Wanda Assyura mengingatkan bahwa menjaga Aceh adalah kerja maraton yang menuntut kesabaran.
“Kita butuh napas panjang untuk saling bantu. Jika ada kekurangan dalam pembangunan, tugas kita adalah mengoreksinya secara santun dan konstruktif, bukan merusaknya dengan kebencian. Saling percaya antara rakyat dan pemerintah adalah fondasi paling kokoh untuk membangun Aceh yang mandiri dan berdaya,” katanya.

Pesan damai yang telah terawat selama dua dekade terakhir perlu terus dijaga sebagai ruang aman untuk berinovasi. Kepentingan jangka pendek dan perbedaan pandangan tidak semestinya merobek kain persaudaraan yang ditenun dengan air mata pascatsunami. Masyarakat Aceh hari ini adalah generasi yang lebih matang, mampu memilah informasi yang membangun dan menepis narasi yang hanya menciptakan kegaduhan.

Solidaritas warga dalam menghadapi banjir belakangan ini menjadi bukti bahwa semangat gotong royong tetap hidup. Warga saling membantu tanpa memandang latar belakang, mencerminkan wajah Aceh yang penuh empati. Energi inilah yang patut dikonversi menjadi gerakan pembangunan berkelanjutan peka terhadap penderitaan sesama sekaligus proaktif menciptakan solusi.

Sebagai penutup, optimisme harus menjadi bahan bakar setiap langkah ke depan. Aceh yang berdaya adalah Aceh yang berdiri tegak tanpa melupakan akar budaya dan nilai religiusnya.
“Jadikan peringatan ini sebagai titik balik untuk saling menguatkan. Jauhi hal-hal yang merugikan nama baik daerah kita. Mari kawal perbaikan Aceh dengan cinta, kerja keras, dan tanggung jawab. Aceh yang besar hanya bisa dibangun oleh jiwa-jiwa besar yang memilih saling percaya daripada saling curiga,” pungkas Wanda Assyura.

Baca juga:  Ketua Pemuda Aceh-Jakarta Wanda Assyura Perjuangkan Bantuan Menjangkau Seluruh Titik Terdampak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *