Di sisi lain, langkah Trump dinilai sebagai taktik negosiasi yang keras. Kevin Hassett, penasihat ekonomi Gedung Putih, menyatakan tarif tersebut “nyata” jika tawaran UE tidak membaik. “Presiden akan menerapkan tarif jika kesepakatan yang ditawarkan tidak cukup bagus,” ujarnya.
Langkah Trump ini memicu kekhawatiran besar di kalangan industri Eropa, terutama Jerman. Asosiasi Industri Jerman (BDI) menyebut ancaman tarif ini sebagai “alarm keras” bagi kedua sisi Atlantik. Industri otomotif dan baja Jerman diperkirakan paling terdampak, dengan tarif ekspor mobil naik menjadi 25% dan tarif baja mencapai 50%.
Sejumlah analis menilai ancaman tarif ini tidak hanya merusak hubungan dagang, tapi juga memperkeruh ketidakpastian global di tengah situasi geopolitik yang sudah rapuh.
Saat ini, nilai perdagangan UE-AS mencapai €1,4 triliun per tahun. Hanya tiga negara Jerman, Italia, dan Irlandia yang mengekspor lebih banyak ke AS dibandingkan impor dari negeri Paman Sam.
Pertemuan darurat duta besar negara-negara UE telah digelar di Brussels, dan para menteri perdagangan Uni Eropa akan mengadakan pertemuan resmi pada Senin untuk merumuskan langkah selanjutnya menghadapi gejolak dagang ini.











