“Kami tidak ingin sumber daya alam hanya diekspor dalam bentuk mentah. Hilirisasi harus mendorong nilai tambah, transfer teknologi, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa pembangunan industri harus berjalan seiring dengan prinsip kelestarian lingkungan, tanggung jawab sosial perusahaan, serta pemberdayaan masyarakat lokal agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara adil dan berkelanjutan.
Selain memperkuat konektivitas perdagangan internasional, direct ekspor feronikel ini turut menempatkan Sulawesi Tenggara sebagai simpul strategis dalam rantai industri dan perdagangan global, khususnya dalam mendukung kebutuhan bahan baku industri strategis dunia.
Pada kesempatan tersebut, Gubernur Andi Sumangerukka kembali menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara untuk terus menciptakan iklim investasi yang kondusif, memberikan kepastian hukum, menjaga stabilitas dan keamanan daerah, serta memperkuat sinergi dengan pemerintah pusat, dunia usaha, dan masyarakat.
Gubernur juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat atas dukungan kebijakan dan regulasi, kepada para investor dan pelaku industri atas kepercayaan yang diberikan, serta seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam terwujudnya direct ekspor perdana ini.
Ia berharap, ekspor langsung ini menjadi awal dari peningkatan volume perdagangan, perluasan pasar internasional, serta masuknya investasi baru yang berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi daerah dan kesejahteraan masyarakat Sulawesi Tenggara.












