Tak hanya soal fisik lingkungan, Dedi juga menyentuh aspek moral dan budaya masyarakat Sunda. Ia mengajak seluruh elemen pemerintahan untuk mengembalikan nilai-nilai kerapihan, ketertiban, kesopanan, dan tanggung jawab sosial yang menjadi ciri khas masyarakat Jawa Barat.
Pelantikan ini sekaligus menjadi pesan politik dan moral bahwa jabatan bukan untuk menikmati fasilitas negara, tetapi untuk menyingsingkan lengan baju dan bekerja di akar persoalan.
“Saya gak bisa hanya mimpi. Saya harus mengembalikan. Kembali Jawa Barat-nya. Kembali manusianya,” pungkasnya.
Pelantikan simbolik di bawah tol ini menjadi penegasan bahwa birokrasi harus turun ke bawah, hadir di tempat persoalan, dan menjadi bagian dari solusi. Langkah Dedi pun mendapat banyak dukungan dari masyarakat yang berharap pejabat baru benar-benar menjalankan tugas dengan hati dan integritas.












