Di sisi inklusi, BNI terus memperkuat jaringan BNI Agen46 hingga ke wilayah timur Indonesia. Upaya ini dibarengi dengan dukungan terhadap program Sekolah Rakyat melalui ekosistem pembayaran digital. BNI berupaya membangun citra sebagai bank yang peduli pada pemerataan akses pendidikan dan literasi keuangan sejak dini, sebuah langkah panjang untuk mengunci loyalitas nasabah masa depan.
Keterlibatan BNI dalam isu sosial ini mendapat apresiasi sekaligus pengingat dari publik. DonJ menilai, langkah BNI masuk ke ekosistem sekolah adalah strategi yang cerdas namun berisiko jika tidak dikelola dengan transparan. “BNI di Sekolah Rakyat itu langkah positif untuk transparansi dana pendidikan. Tapi, publik akan terus memantau jangan sampai biaya admin atau kerumitan sistem digitalnya justru membebani orang tua murid yang seharusnya dibantu. Kita butuh solusi yang memudahkan, bukan menambah beban baru,” ungkap Romadhon Jasn menekankan aspek keberpihakan.
Dalam hal manajemen risiko, BNI terus melakukan de-risking untuk menjaga kualitas aset tetap sehat di kategori blue chip. Langkah ini termasuk ketegasan dalam pemulihan dana terkait kasus-kasus lama, seperti pembobolan rekening nasabah yang sempat mencuat. Upaya pembersihan internal ini dianggap penting untuk menjaga kepercayaan publik yang sempat goyah oleh isu keamanan siber di industri perbankan nasional beberapa waktu lalu.
Menutup kuartal pertama, BNI mulai menyosialisasikan skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) 2026 melalui portal resmi Kabar BNI. Terkait hal ini, Romadhon mengingatkan agar birokrasi di tingkat cabang benar-benar sejalan dengan janji kemudahan di pusat. “Tiap tahun janji KUR mudah selalu ada, tapi realita di lapangan sering kali berbeda. BNI 2026 harus membuktikan bahwa UMKM benar-benar bisa ‘naik kelas’ tanpa terjebak syarat yang berbelit. Kalau ini berhasil, dukungan publik akan otomatis mengalir,” pungkasnya.












