KENDARI – Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, Ir. Hugua, menghadiri Silaturahmi Nasional (Silatnas) DPP GUPPI yang dirangkaikan dengan Ummusshabri International Expo & International Congress 2026, di Hotel Plaza Inn Kendari, Sabtu (10/01/2025). Kegiatan ini mengusung tema “United the World by Giving Insight Through Education in the Digital Era”.
Agenda berskala nasional dan internasional tersebut turut dihadiri Menteri Pendidikan RI Prof. Dr. Abdul Mu’ti, Ketua Umum DPP GUPPI Prof. dr. Faisal Jalal, Sekretaris Daerah Provinsi Sultra, jajaran kepala OPD lingkup Pemprov Sultra, para rektor perguruan tinggi di Kendari, serta delegasi internasional dari Turki, Filipina, Malaysia, Tiongkok, dan Australia.
Dalam sambutannya, Menteri Pendidikan RI Prof. Dr. Abdul Mu’ti memberikan apresiasi atas kualitas penyelenggaraan pendidikan di Ummusshabri. Ia bahkan menyebut, apabila seluruh sekolah di Indonesia memiliki standar seperti Ummusshabri, maka tantangan besar pendidikan nasional akan jauh lebih ringan.
Meski demikian, Menteri menegaskan masih terdapat tiga persoalan utama yang dihadapi dunia pendidikan Indonesia. Persoalan pertama adalah akses dan mutu pendidikan yang belum merata. Ia menyoroti masih adanya anak-anak Indonesia yang belum menikmati pendidikan bermutu akibat keterbatasan ekonomi, kondisi geografis, fisik, maupun keamanan.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Kementerian Pendidikan mengusung visi “Pendidikan Bermutu untuk Semua”, sejalan dengan amanat konstitusi serta Asta Cita Presiden, khususnya poin keempat. Menteri berharap DPP GUPPI terus mengambil peran strategis dalam mendukung pemerataan pendidikan nasional.
Persoalan kedua adalah krisis karakter generasi muda. Menteri menyinggung fenomena generasi “strawberry” yang secara fisik tampak kuat, namun rentan secara mental dan spiritual. Ia juga mengingatkan meningkatnya kasus gangguan kesehatan mental, termasuk bunuh diri di kalangan Generasi Z.
Selain itu, ia menyoroti dampak negatif teknologi digital, seperti kecanduan gawai, perundungan siber, hingga kekerasan yang berawal dari konten media sosial. Menurutnya, pemerintah tengah mengkaji secara serius evaluasi terhadap sejumlah platform digital demi melindungi generasi muda.













