Jakarta— Kalau ada lomba “hemat-hemat tapi tekor”, Indonesia bisa jadi juaranya. Di bawah kendali Menteri Keuangan Sri Mulyani, negeri ini berhasil melakukan pemangkasan anggaran hingga Rp 300 triliun dan sebagai prestasinya, defisit justru naik Rp 662 triliun. Ajaib? Tidak juga. Itu namanya fiskal kreatif.
Pasak memang lebih kecil dari tiang, tapi tenang saja, tiangnya bisa dibikin dari utang. Kalau utang habis? Ada SAL (Sisa Anggaran Lebih), yang entah kenapa selalu ada padahal defisit terus.
Menurut Bu Menkeu tercinta, defisit ini bukan salah siapa-siapa. Salahnya dividen BUMN yang tiba-tiba disulap ke Danantara, PPN yang batal dipungut, dan tentu saja harga minyak yang ogah naik. Negara rugi? Tentu. Tapi jangan panik, kan ada utang baru.
Penerimaan pajak diprediksi cuma Rp 2.076,9 triliun, padahal targetnya Rp 2.189,3 triliun. Ya lumayan meleset sedikit, hanya seharga satu ibu kota baru. Tapi tidak apa-apa, karena katanya belanja tetap jalan ada makan gratis, sekolah rakyat, dan proyek ketahanan pangan. Luar biasa.
Belanja negara akan tembus Rp 3.527 triliun, dan kita bersyukur karena sebagian besar adalah belanja pusat. Apa kabar daerah? Dapat sisanya.
Daripada pusing mikir pemasukan, mari kita cetak surat utang. DPR? Tenang, mereka baik hati dan setia menyetujui. SAL pun ikut diseret sekitar Rp 85,6 triliun demi menunda kenyataan pahit bahwa negara ini sedang hidup dari pinjaman demi pinjaman.
OECD yang sok tahu bilang defisit kita bisa menyentuh 2,8 persen dari PDB. Tapi katanya masih aman, karena belum 3 persen. Artinya: kita masih punya 0,2 persen ruang buat gaya-gayaan fiskal.












