Bandung,— Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kembali menyita perhatian publik setelah melaksanakan pelantikan sejumlah pejabat provinsi di tempat yang tidak biasa: kolong jembatan tol Cileunyi–Sumedang, sebuah lokasi yang selama ini dikenal sebagai kawasan kumuh dan tak terurus.
Pelantikan tersebut digelar tepat di jalur Cilengkrang menuju Sumedang, di bawah jalan tol, dikelilingi tumpukan sampah, warung liar, dan kendaraan yang parkir sembarangan. Alih-alih menggelar seremoni mewah di kantor pemerintahan atau hotel, Dedi memilih lokasi itu sebagai simbol perlawanan terhadap kemunafikan birokrasi dan panggilan aksi nyata untuk perbaikan lingkungan hidup dan tata kelola kota.
“Jawa Barat itu diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum. Tapi oleh kita, tanah surga ini dijadikan neraka. Jalannya rusak, drainasenya mampet, sungainya kotor, got-gotnya hitam, orang-orangnya bertengkar tiap hari,” tegas Dedi dalam pidatonya yang penuh semangat.
Dedi mengatakan, para pejabat yang dilantik harus membuka mata terhadap realitas yang terjadi di tengah masyarakat, bukan hanya duduk di balik meja dan membuat kebijakan tanpa pengaruh langsung. Ia juga menginstruksikan Dinas Pekerjaan Umum untuk segera melakukan pendataan terhadap seluruh kawasan kumuh di pinggir jalan nasional dan provinsi, serta mengirim petugas untuk membersihkan dan menata ulang kawasan tersebut.
“Regulator itu artinya dia bergerak. Kalau yang digerakannya macet, maka kita harus ambil inisiatif untuk menyelesaikan,” ujar Dedi.












