WASHINGTON– Presiden AS Donald Trump pada hari Selasa berjanji untuk mengenakan tarif terhadap Uni Eropa dan menyebutkan bahwa pemerintahannya sedang membahas bea hukuman sebesar 10% untuk impor dari China. Hal ini dilakukan karena fentanyl diduga dikirim dari China ke AS melalui Meksiko dan Kanada.
Trump menyampaikan ancaman tarif terbaru dalam pernyataannya kepada wartawan di Gedung Putih, sehari setelah menjabat tanpa segera memberlakukan tarif seperti yang dijanjikan selama kampanye.
Pasar keuangan dan kelompok perdagangan sempat merasa lega pada hari Selasa, tetapi komentar Trump menegaskan kembali keinginannya untuk memperluas tarif. Ia juga menetapkan tenggat waktu baru, 1 Februari, untuk tarif 25% terhadap Kanada dan Meksiko, serta tarif terhadap China dan Uni Eropa.
Trump menyoroti surplus perdagangan yang dimiliki Uni Eropa dan negara lain terhadap AS.
“Uni Eropa sangat, sangat buruk bagi kita,” katanya, “Jadi mereka akan terkena tarif. Itu satu-satunya cara untuk mencapai keadilan,” lanjutnya, Rabu, 22/1/2025.
Trump mengatakan pada hari Senin bahwa dia mempertimbangkan tarif terhadap Kanada dan Meksiko kecuali mereka menekan perdagangan migran ilegal dan fentanyl, termasuk bahan kimia prekursor dari China, yang masuk ke AS melalui perbatasan mereka.
China menyatakan bersedia menjaga komunikasi dengan AS untuk menangani perbedaan secara tepat dan memperluas kerja sama yang saling menguntungkan. Kementerian Luar Negeri China menyebutkan keinginannya untuk mendorong hubungan yang stabil dan berkelanjutan.
“Kami selalu percaya bahwa tidak ada pemenang dalam perang dagang atau perang tarif. China akan selalu dengan tegas melindungi kepentingan nasionalnya,” kata Mao Ning, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, dalam konferensi pers reguler pada hari Rabu.
Penasihat perdagangan Gedung Putih, Peter Navarro, mengatakan bahwa ancaman tarif terhadap Kanada dan Meksiko bertujuan untuk menekan kedua negara agar menghentikan migran ilegal dan perdagangan obat-obatan terlarang masuk ke AS.












