“Sangat disayangkan ada yang mencoba mengiring peristiwa ini ke isu rasis. Tindakan seperti itu justru berpotensi menimbulkan gesekan horizontal dan merusak kohesi sosial masyarakat Sultra,” lanjut Akril.
Visioner tersebut menegaskan bahwa isu identitas dan kesukuan tidak boleh dijadikan komoditas politik atau alat untuk menyerang individu, apalagi pejabat publik yang sedang menjalankan tugasnya.
“Sulawesi Tenggara adalah rumah bersama. Perbedaan suku dan bahasa harus menjadi kekuatan, bukan alasan untuk saling curiga. Kita harus kembali pada semangat persaudaraan dan gotong royong,” tambahnya.
Di akhir pernyataannya, Visioner Indonesia mengajak seluruh masyarakat Sulawesi Tenggara untuk menjaga ketenangan dan tidak mudah terprovokasi oleh potongan video atau narasi yang belum tentu menggambarkan fakta utuh.
“Peristiwa ini harus menjadi pelajaran bersama bagi pejabat agar berhati-hati berucap, dan bagi masyarakat agar bijak dalam menilai informasi. Visioner Indonesia percaya Sultra mampu menunjukkan kedewasaan sosial dengan mengedepankan dialog dan semangat persatuan,” tutup Akril Abdillah.












