JAKARTA – Mengawali pekan ketiga Januari 2026, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mencuri perhatian pasar lewat serangkaian aksi korporasi besar. Di tengah tren penguatan IHSG yang membidik level 8.940, BNI meluncurkan berbagai manuver, mulai dari penataan struktur kepemilikan pasca-Danantara hingga peluncuran instrumen hedging baru. Namun, agresivitas ini tak lepas dari sorotan publik yang menuntut konsistensi layanan di lapangan.
Langkah strategis yang menjadi sorotan adalah pengalihan 223,78 juta saham BBNI dari Danantara kembali ke Badan Pengelola (BP) BUMN. Aksi ini dibaca pasar sebagai upaya merapikan tata kelola aset negara agar lebih lincah menghadapi volatilitas ekonomi global 2026. Pergeseran kepemilikan ini memberikan sinyal bahwa pemerintah ingin memastikan kontrol pada bank sistemik tetap solid di tengah persaingan perbankan digital yang kian sengit.
Selain di level makro, BNI meluncurkan Seagull Option, sebuah instrumen lindung nilai untuk nasabah korporasi. Produk ini diposisikan sebagai solusi efisien bagi eksportir-importir untuk menghadapi fluktuasi nilai tukar. BNI tampak ingin mempertegas dominasinya di sektor Treasury, sekaligus menunjukkan bahwa mereka bukan lagi bank tradisional, melainkan penyedia solusi finansial yang kompleks bagi pemain global.
Upaya digitalisasi melalui platform Trade Innovation Finastra pun terus dikebut untuk memangkas birokrasi perdagangan. Menanggapi hal ini, Direktur Gagas Nusantara sekaligus pegiat media sosial, Romadhon Jasn, memberikan catatan. “Digitalisasi di level korporat memang terlihat mentereng, tapi tantangannya adalah bagaimana kemudahan ini juga dirasakan oleh nasabah ritel di bawah. Jangan sampai sistem canggih di pusat justru sering ‘down’ saat diakses pengguna di pelosok. Teknologi itu bagus kalau stabil, bukan cuma kalau baru,” tulis Romadhon dalam ulasan terbarunya, Senin (19/1/2026) di Jakarta.












