KENDARI,- Sorotan publik bukan hanya tertuju pada substansi tuntutan mengenai transparansi dana Corporate Social Responsibility (CSR) dan Program Pemberdayaan Masyarakat (PPM), tetapi juga pada ilustrasi visual yang menampilkan seorang perempuan mengenakan jilbab dipadukan dengan rok di atas lutut.
Visual tersebut memicu kritik Eks Ketua BEM Hukum Universitas UHO karena dinilai tidak mencerminkan penghormatan terhadap simbol-simbol keagamaan dan berpotensi menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat yang mayoritas beragama Islam.
Mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Halu Oleo (BEM FH UHO) periode 2023–2024, Muh. Bissabir, menilai penggunaan ilustrasi tersebut merupakan persoalan yang tidak dapat dipandang sebagai kesalahan desain semata, melainkan menyangkut sensitivitas sosial dan nilai-nilai keagamaan.
Menurutnya, simbol jilbab memiliki makna religius yang tidak dapat dipisahkan dari kewajiban menutup aurat dalam ajaran Islam. Karena itu, penggambaran perempuan berjilbab dengan pakaian yang dinilai tidak menutup aurat secara utuh berpotensi menimbulkan persepsi negatif di tengah masyarakat.
“Dalam masyarakat yang religius, simbol-simbol keagamaan harus digunakan secara bijaksana. Ilustrasi seperti ini berpotensi menimbulkan polemik karena dapat dipersepsikan sebagai bentuk pelecehan terhadap nilai-nilai yang dihormati umat Islam,” ujar Bissabir, Selasa (28/7/2026).
Bissabir menegaskan bahwa organisasi yang menyampaikan kritik kepada pihak lain juga memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan seluruh materi publikasi yang diproduksi tidak justru melahirkan kontroversi baru.
Ia menilai kebebasan berekspresi tidak dapat dipisahkan dari kewajiban menghormati norma agama, budaya, dan etika sosial. Menurutnya, pesan yang hendak disampaikan melalui sebuah media publikasi tidak boleh mengabaikan aspek visual yang dapat menyinggung keyakinan masyarakat.
“Substansi kritik boleh saja disampaikan, tetapi cara penyampaiannya harus tetap menghormati nilai yang hidup di masyarakat. Jangan sampai pesan yang ingin dibangun justru tenggelam karena kesalahan dalam penyajian visual,” katanya.
