Usaha patungan TikTok AS akan dikelola oleh dewan direksi beranggotakan tujuh orang, dengan mayoritas warga negara Amerika Serikat. Entitas ini akan berdiri secara independen dan memiliki kewenangan penuh atas pengelolaan data pengguna AS, keamanan algoritma, serta moderasi konten.
Sebagai bagian dari kesepakatan, Oracle akan mengawasi algoritma rekomendasi konten TikTok untuk pengguna di AS. Algoritma tersebut akan dilatih ulang menggunakan data pengguna AS guna memastikan tidak ada intervensi atau manipulasi dari pihak luar. Meski demikian, China tetap mempertahankan kontrol atas teknologi inti algoritma, sesuai dengan ketentuan regulator keamanan siber negara tersebut.
Kesepakatan ini diperkirakan rampung pada 22 Januari, sehari sebelum tenggat waktu yang sebelumnya ditetapkan Trump, yang berpotensi berujung pada pelarangan TikTok di AS. Wakil Presiden AS, JD Vance, menyebut nilai usaha patungan TikTok AS mencapai sekitar 14 miliar dolar AS.
Namun, masuknya Larry Ellison sebagai salah satu pemilik utama TikTok AS memunculkan kritik dari sejumlah pihak. Mereka menilai semakin berkurangnya perusahaan media besar yang tidak berada di bawah kendali miliarder yang dekat dengan Trump. Senator Demokrat Elizabeth Warren menyuarakan kekhawatiran bahwa kesepakatan ini berpotensi memperbesar pengaruh elite bisnis terhadap informasi yang dikonsumsi publik Amerika.
Kesepakatan tersebut juga mencakup lisensi serta hak kekayaan intelektual lainnya, yang menjadi bagian penting dalam memastikan TikTok tetap beroperasi di pasar Amerika Serikat dengan kerangka hukum baru.
