TEHERAN — Lembaga keagamaan tertinggi Iran yang berwenang memilih pemimpin negara menyatakan telah mencapai kesepakatan mengenai sosok pengganti pemimpin tertinggi Iran yang baru. Keputusan tersebut diambil setelah wafatnya Ali Khamenei dalam serangan militer yang mengguncang kawasan Timur Tengah.
Anggota majelis pemilih dari Assembly of Experts, Mohsen Heydari, mengatakan mayoritas anggota telah menyetujui kandidat yang dinilai paling layak memimpin Iran. Meski demikian, nama tokoh tersebut belum diumumkan secara resmi kepada publik.
“Calon paling tepat telah disetujui oleh mayoritas anggota majelis,” ujar Heydari dalam pernyataan yang dikutip media Iran pada Minggu.
Pernyataan serupa juga disampaikan oleh anggota majelis lainnya, Mohammad Mehdi Mirbagheri, yang menegaskan bahwa keputusan tersebut mencerminkan pandangan mayoritas ulama dalam lembaga tersebut.
Di tengah proses penunjukan pemimpin baru, militer Israel memberikan peringatan keras. Dalam pernyataan di media sosial, Israel menyatakan akan menargetkan siapa pun yang menggantikan posisi pemimpin tertinggi Iran serta pihak yang terlibat dalam proses penunjukannya.
Salah satu nama yang sempat mencuat sebagai kandidat kuat adalah Mojtaba Khamenei, putra dari Ali Khamenei. Namun, kemungkinan suksesi dari ayah ke anak memicu kritik dari berbagai pihak, termasuk kalangan ulama Syiah yang menilai langkah tersebut bertentangan dengan semangat revolusi Iran tahun 1979 yang menggulingkan sistem monarki.
