JAKARTA- Minggu (17/8) lalu menjadi hari paling kelam bagi keluarga besar HH. Pelajar SMA berusia 18 tahun itu tak pernah membayangkan bahwa perjalanan pulang sekolahnya akan berakhir di ruang jenazah. Motornya tergelincir di jalan licin, dan truk sampah yang melintas tak sempat menghindar.
Detik-detik maut di Jalan Raya Bogor itu bukan sekadar kecelakaan lalu lintas. Di balik genangan air dan sisa limbah ikan yang menutupi aspal, ada fakta menyakitkan: selama bertahun-tahun, bahu jalan di sekitar Pasar Induk Kramat Jati telah menjadi lapak ilegal bagi ratusan pedagang ikan. dan siapapun yang lewat, setiap hari, mempertaruhkan nyawa di atas jalan yang seperti arena seluncur.
Insiden ini mengguncang Jakarta. Publik marah, keluarga korban menangis, dan Perumda Pasar Jaya akhirnya bergerak cepat. Sebanyak 613 pedagang kaki lima—termasuk 193 pedagang ikan dan kerang yang selama ini berjualan di bahu jalan—akan direlokasi ke area dalam pasar dan Lokasi Binaan (Lokbin) Kramat Jati .
Jaringan Masyarakat Madura Jakarta (JAMMA) menjadi salah satu organisasi pertama yang angkat bicara. Ketua Umum Edi Homaidi, dengan nada lantang, menyatakan dukungan penuh terhadap langkah tegas Pasar Jaya. “Kami menyampaikan duka yang sedalam-dalamnya. Satu nyawa hilang karena aturan diabaikan berkali-kali. Ini tidak boleh terulang,” ujar Edi kepada awak media, Selasa (25/8).
Tapi dukungan Edi bukan tanpa catatan. Sebagai organisasi yang selama ini membela kepentingan pedagang kecil dan sektor informal, JAMMA menyoroti sisi lain dari tragedi ini. Para pedagang ikan dan kerang yang berjualan di bahu jalan bukanlah orang kaya. Mereka adalah warga biasa yang menggantungkan hidup dari lapak-lapak sederhana itu—dan selama ini, tak ada yang benar-benar mengatur mereka. “Penertiban harus tegas, tapi juga humanis. Pedagang harus punya tempat dan kepastian usaha. Mereka juga butuh dilihat,” tegas Edi.
