China Hadapi Risiko Besar Usai Penangkapan Maduro oleh Amerika Serikat

Nicolás Maduro dengan Xi Jinping di Beijing tahun 2023.

CHINA- Beberapa jam sebelum ditangkap pasukan Amerika Serikat, Presiden Venezuela Nicolás Maduro masih menjalankan diplomasi tingkat tinggi di Istana Miraflores, Caracas. Ia menerima delegasi China dan memuji hubungan kedua negara sebagai persahabatan yang “tak tergoyahkan dalam kondisi apa pun”.

Namun, penangkapan Maduro oleh AS pada Jumat malam mengubah lanskap politik Venezuela secara drastis dan menempatkan China dalam posisi sulit. Beijing selama ini merupakan mitra strategis utama Caracas sekaligus kreditur terbesar di kawasan Amerika Latin.

China dengan cepat mengecam langkah Washington. Beijing menyerukan pembebasan Maduro dan mendukung sidang Dewan Keamanan PBB untuk membahas tindakan AS tersebut. Menteri Luar Negeri China Wang Yi menegaskan bahwa negaranya menolak prinsip satu negara bertindak sebagai “polisi dunia”.

Reaksi keras juga muncul di dalam negeri China. Media sosial dipenuhi kecaman terhadap operasi AS yang dianggap sebagai bentuk imperialisme modern. Sementara itu, unggahan yang menyambut penangkapan Maduro dilaporkan dibatasi atau dihapus.

Para analis di Beijing menilai penangkapan Maduro dapat menjadi preseden berbahaya. Wang Yiwei dari Universitas Renmin mengatakan Venezuela mungkin hanya menjadi “awal” dari pendekatan keras AS terhadap negara-negara Amerika Latin yang dekat dengan China.

Selama bertahun-tahun, Beijing memperluas pengaruhnya di Amerika Latin melalui investasi, perdagangan, dan pinjaman. Tahun lalu, nilai perdagangan China dengan kawasan tersebut mencapai rekor lebih dari US$500 miliar, menantang dominasi tradisional Amerika Serikat.

Exit mobile version