JAKARTA – Pemadaman listrik massal yang melanda sebagian besar wilayah Sumatera sejak we Jumat malam (22/5/2026) memicu gelombang kritik tajam terhadap PT PLN (Persero). Gangguan yang menyebabkan blackout lintas provinsi itu dinilai bukan lagi sekadar persoalan teknis, melainkan mencerminkan rapuhnya sistem kelistrikan nasional serta lemahnya manajemen krisis perusahaan.
Dari Aceh hingga Jambi, aktivitas masyarakat dilaporkan lumpuh selama berjam-jam. Layanan publik terganggu, jaringan komunikasi tersendat, pelaku usaha mengalami kerugian, hingga masyarakat harus menghadapi situasi tanpa kepastian di tengah minimnya informasi resmi.
Di media sosial, kritik terhadap PLN terus bermunculan. Narasi modernisasi sistem kelistrikan dan transformasi digital yang selama ini digaungkan perusahaan justru menjadi sasaran sindiran publik setelah sistem interkoneksi Sumatera dilaporkan lumpuh akibat gangguan pada jalur transmisi utama.
Ketua Umum Visioner, Akril, menilai blackout tersebut membuka pertanyaan besar mengenai ketahanan infrastruktur kelistrikan nasional. Menurutnya, masyarakat wajar mempertanyakan kekuatan sistem jika satu gangguan mampu memadamkan listrik dalam skala pulau.
“Kalau satu gangguan saja bisa bikin satu pulau gelap total, publik wajar bertanya sebenarnya sekuat apa sistem kelistrikan nasional kita,” ujar Akril dalam unggahan yang ramai dibagikan ulang di media sosial, Minggu (24/5), di Jakarta.
Selain persoalan teknis, publik juga menyoroti lambatnya komunikasi krisis PLN selama pemadaman berlangsung. Di tengah kepanikan masyarakat, ruang informasi dinilai justru dipenuhi spekulasi dan potongan video viral karena minimnya penjelasan resmi yang cepat dan transparan.
