Tak lama setelah parade, Putin mengadakan pertemuan dengan Kim Jong-un. Media Rusia melaporkan Kim berkomitmen memberi dukungan penuh bagi Moskow, bahkan menyebutnya sebagai “tugas persaudaraan”.
Sementara itu, Rusia melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap Ukraina, melukai beberapa pekerja kereta api, dan memaksa Polandia mengerahkan jet tempurnya.
Tidak ada pemimpin besar barat yang hadir. Sebaliknya, parade dihadiri Presiden Iran Masoud Pezeshkian serta pemimpin junta Myanmar Min Aung Hlaing. Presiden AS Donald Trump bahkan menyindir keras lewat Truth Social dengan menuduh Xi, Putin, dan Kim tengah “berkonspirasi melawan Amerika”.
Bagi para analis, parade ini lebih dari sekadar seremoni peringatan perang. “Ini unjuk kekuatan. Pesannya jelas: Tiongkok siap menghadapi semua domain, dari darat, laut, udara, hingga nuklir,” kata Jennifer Parker, pengamat pertahanan dari UNSW Canberra.
Xi menutup dengan menggaungkan kembali visi “kebangkitan bangsa Tiongkok”, sebuah agenda besar Partai Komunis yang erat kaitannya dengan ambisi Beijing terhadap Taiwan.
