Romadhon menambahkan, kedekatan antara aparat kepolisian dan buruh merupakan modal penting dalam membangun kepercayaan publik.
“Ketika polisi hadir untuk mendengar dan membantu, masyarakat akan merasa dihargai. Hubungan yang sehat ini penting untuk menjaga harmoni sosial,” katanya.
Sinergi antara Polri dan kalangan pekerja pun dinilai menciptakan optimisme baru. Kehadiran aparat di tengah masyarakat dengan pendekatan humanis memperkuat citra kepolisian sebagai institusi yang terbuka, responsif, dan peduli terhadap persoalan rakyat.
Bagi para buruh, kebijakan ini juga meningkatkan rasa percaya diri untuk terus berkarya. Polri tidak lagi dipandang semata sebagai penegak hukum, tetapi sebagai mitra strategis dalam menjaga kesejahteraan dan keamanan lingkungan kerja.
Langkah Kapolri ini memperlihatkan bahwa pelayanan publik tidak hanya berbasis penegakan aturan, tetapi juga menyentuh aspek kemanusiaan. Perhatian terhadap kesehatan dan ketenangan pekerja menjadi bagian dari upaya membangun hubungan jangka panjang yang saling menguatkan.
Sebagai penutup, Romadhon menegaskan bahwa kebijakan tersebut mencerminkan semangat Polri yang semakin dekat dengan masyarakat.
“Ketika rakyat merasa aman, sehat, dan dihargai, di situlah kehadiran negara benar-benar dirasakan. Polri hari ini menunjukkan arah kepemimpinan yang membumi dan berorientasi pada kesejahteraan,” pungkasnya.
