Mundurnya Rahayu Saraswati: Politik Etis dan Pesan Ksatria di Era Prabowo

Rahayu Saraswati Djojohadikusumo

Jakarta – Keputusan Rahayu Saraswati Djojohadikusumo untuk mundur dari kursi DPR RI mengejutkan publik. Langkah keponakan Presiden Prabowo Subianto itu dinilai jarang terjadi dalam kultur politik Indonesia yang terbiasa mempertahankan jabatan meski dihantam kritik.

Pengamat politik Rocky Gerung menyebut sikap Sara sebagai bentuk “etikabilitas mendahului elektabilitas.” Dalam kanal Rocky Gerung Official (11 September 2025), ia menilai mundurnya Sara menunjukkan integritas moral yang lebih utama daripada sekadar popularitas politik. Menurutnya, ini bukan sekadar permintaan maaf, melainkan tindakan ksatria yang lahir dari kesadaran diri.

Gelombang pujian datang dari berbagai kalangan. Politisi Demokrat Jansen Sitindaon menilai Sara memiliki tiga kapasitas etika, intelektual, dan elektabilitas namun tetap memilih mundur saat etika terganggu. Sementara di media sosial, influencer Bro Ron menulis “she is legend, the real gagah berani,” sindiran bagi politisi lain yang enggan mundur meski tersandung kasus.

Ketua Umum Kaukus Muda Indonesia (KMI), Edi Homaidi, menilai keputusan Sara adalah preseden penting dalam demokrasi. “Mundur di tengah sorotan publik bukan kekalahan, melainkan kemenangan moral. Sikap ini menegaskan bahwa jabatan hanyalah amanah, bukan hak absolut,” kata Edi Homaidi, Jumat (12/9) di Jakarta.

Konteks pengunduran diri Saras hadir di tengah sorotan publik atas reshuffle kabinet Prabowo dan tuntutan 17+8 yang digelorakan mahasiswa pasca demo Agustus 2025. Masyarakat sipil menyoroti masalah biaya hidup, tata kelola kebijakan, hingga transparansi pejabat publik. Mundurnya Sara memberi pesan berbeda di tengah kekecewaan publik.

Exit mobile version