Romadhon menyoroti minimnya imajinasi pemerintah daerah. “Daripada barak, mengapa tidak bangun fasilitas seni atau olahraga untuk salurkan energi remaja? Solusi instan ini kosong substansi,” katanya. Ia menekankan, membentuk karakter butuh ruang kreatif yang mendukung potensi anak, bukan perintah ala militer yang kaku dan seragam.
Pendekatan holistik, menurut Romadhon, jauh lebih relevan. “Kenakalan remaja berakar dari keluarga, lingkungan, atau tekanan sosial. Barak selama enam bulan tak akan selesaikan masalah, malah bisa tambah trauma,” ujarnya. Pendekatan psikologis yang memahami kebutuhan individu, katanya, adalah kunci untuk memperbaiki perilaku siswa.
Sikap Dedi yang menyerang kritik publik juga disesalkan. “Pemimpin harus buka dialog, bukan sindir balik. Kajian mendalam dengan pendidik dan psikolog diperlukan, bukan ide tanpa dasar,” tegas Romadhon. Ia menilai, arogansi semacam ini menghambat solusi nyata dan memperlihatkan kemalasan berpikir.
Romadhon juga menegaskan, kebijakan ini adalah ilusi yang menipu. “Gubernur harus kembali ke meja dialog, dengarkan anak-anak, dan rancang solusi manusiawi. Anak-anak butuh ruang berkreasi, bukan barak untuk diatur. Barak militer bukan jawaban,” pungkasnya.
