GPII Dukung Pertamina Jaga Kedaulatan Energi di Tengah Isu Monopoli Avtur dan Harga Tiket Pesawat

Truk tangki berisi Avtur melintas usai proses pengisian bahan bakar pada pesawat di bandara Internasional Ngurah Rai, Denpasar, Bali, Rabu (29/4). Pertamina melakukan evaluasi harga bahan bakar komersial, termasuk avtur dan Pertamax, dua kali sebulan. (ANTARA FOTO/Anis Efizudin)

Jakarta – Polemik harga tiket pesawat domestik yang terus melonjak menjadi perhatian publik. Selain Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), sejumlah pihak mulai memberikan pandangan mereka terkait penyebab tingginya harga tiket, termasuk keterlibatan Pertamina dalam distribusi avtur. Namun, Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) secara tegas menyatakan dukungannya terhadap Pertamina dalam upayanya menjaga kedaulatan energi nasional.

Ketua GPII, Rizal, menyampaikan bahwa di tengah berbagai kritik yang diarahkan kepada Pertamina, terutama terkait tuduhan monopoli penyediaan avtur, Pertamina tetap menjalankan fungsinya dengan baik sebagai perusahaan negara yang memiliki peran strategis. “Kami di GPII melihat Pertamina tidak hanya sebagai BUMN biasa, tapi sebagai benteng utama dalam menjaga kedaulatan energi nasional. Kenaikan harga tiket pesawat tidak semata-mata bisa disalahkan pada Pertamina,” ujar Rizal, Senin (7/10)

Rizal juga menyoroti bahwa banyak faktor lain yang berperan dalam harga tiket pesawat domestik, termasuk pajak, biaya pemeliharaan pesawat, dan regulasi yang perlu diperbaiki. “Jika masalah monopoli ini terus diangkat tanpa memahami kompleksitasnya, kita bisa mengorbankan kepentingan nasional. Sebagai perusahaan negara, Pertamina tidak hanya berfungsi mencari profit, tapi juga melayani seluruh rakyat Indonesia di sektor yang sangat strategis ini,” tambah Rizal.

Lebih lanjut, Rizal menegaskan pentingnya kolaborasi antar pihak untuk menyelesaikan masalah ini secara komprehensif. Dia berharap bahwa pemerintah, KPPU, dan Pertamina dapat duduk bersama mencari solusi terbaik tanpa mengorbankan kepentingan nasional. “Jangan hanya bicara di media, duduk bersama lebih efektif. Kami di GPII mendukung penuh inisiatif dialog ini, di mana semua pihak bisa mendengarkan satu sama lain dan mencari jalan keluar yang konkret,” jelasnya.

Exit mobile version