“Konflik internal penyelenggara dan keputusan Desk Pilkades menunjukan adanya cara kerja tidak profesional di sana. Makanya waktu tanggal 24 Januari kemarin semua berkasku saya tarik dari panitia,” bebernya.
Di satu sisi, Supri pun menduga tekanan ini dilakukan untuk memaksa dirinya masuk dalam bursa pencalonan Kepala Desa Antar Waktu di Desa Masalili agar memenuhi kuota minimal jumlah Bakal Calon yaitu dua orang.
Apalagi setelah dirinya, salah satu bakal calon lainnnya atas nama La Ode Safunu turut melakukan hal serupa dengan menarik berkas pendaftaran. Dengan demikian tersisa satu bakal calon lainnya atas nama Abd. Rahmansyah.
Pihak-pihak tertentu yang tidak menginginkan hal itu terjadi, dinilai Supri akan melakukan berbagai cara agar kuota bakal calon tetap terpenuhi.
Selain itu, kedatangan orang-orang asing ini hingga membuat tidak nyaman disebutnya bukan kali pertama. Sebelumnya pernah juga dirinya beberapa kali dicari oleh sejumlah orang tak dikenal (OTK) tanpa alasan yang jelas.
“Mulai sejak awal setelah saya mendaftar (calon kades), memang sudah ada beberapa orang asing yang sering bolak-balik tanyakan saya di sekitar rumah. Tapi waktu itu belum sampai mengancam,” ungkapnya.
Ia membeberkan bila dirinya saat itu sempat ingin mengundurkan diri karena merasa tidak nyaman dari berbagai gangguan itu, namun karena menurutnya PPKD Masalili bersama pihak keamanan dapat memperhatikan hal demikian ia pun mengurungkan niat. Walaupun pada akhirnya pengunduran diri itu belakangan tidak dapat dielakkan.
Kondisi ini pun menjadi perhatian penting di kalangan masyarakat. Pasalnya, Pilkades yang diharapkan dapat berjalan dengan sehat dalam semangat kekeluargaan, namun oleh sebagian orang justeru dirusak karena menggunakan berbagai cara tidak pantas sehingga mencederai proses demokrasi yang sedang berjalan.
