Melalui unggahan di media sosial pada Jumat dini hari, Thaksin menegaskan bahwa dirinya tidak melarikan diri. “Saya akan kembali paling lambat Senin dan menghadiri sidang Selasa. Di Dubai saya hanya ingin menemui dokter lama saya dan beberapa sahabat,” tulisnya.
Kepergian Thaksin terjadi di tengah dinamika politik Thailand. Sehari setelah ia meninggalkan Bangkok, parlemen dijadwalkan memilih perdana menteri baru untuk menggantikan putrinya, Paetongtarn Shinawatra, yang baru saja kehilangan jabatannya. Kandidat kuat dalam pemilihan ini adalah politisi pro-royalis, Anutin Charnvirakul, yang diperkirakan akan menyingkirkan calon Pheu Thai, Chaikasem Nitisiri.
Bagi banyak pengamat, langkah Thaksin bukan sekadar perjalanan medis, tetapi simbol dari tarik-menarik kekuasaan lama antara dinasti Shinawatra dan elite militer-royalis yang terus membelah politik Thailand.
